PekNggo (Ngepek Tonggo) – social review

hari ini saya bertandang kerumah sahabat saya. saya di minta ngebantu bout gifts buat someone specialnya. ternyata saya di  suruh editing foto. sambil melihat foto dan berdiskusi baiknya di gimanain dia bercerita ttg dilema yg di alaminya.

begini ceritanya:

awal mula perkenalan yaitu 2 tahun yg lalu. sahabat saya (sebut saja M) yg aktif dalam organisasi ikut dalam kepanitian acara HUT RI yg di laksanakan di lingkungannya. acaranya ya seperti di tempat2 lainnya. di sana lah M bertemu seorang gadis (sebut saja si C) dan langsung jatuh hati (menurut saya sih mungkin baru rasa tertarik saja). cerita pun berlanjut dengan diam2 dan perlahan2.

sebagai cowo dia pingin ngasih sesuatu di ulang tahun si C yg ternyata jatuh di bulan februari. M memberikan jilbab, buku, bunga dan tidak lupa kartu ucapan (wuiiiihhhh… mantab kali). dgn pemberian tsb teman si C menjadi heboh (siapa cb yg gak heboh ketika temannya di kasih jilbab – serius mode on). saya kaget sekaligus salut dgn sahabat saya. sampai saat ini saya blm berani membelikan jilbab kepada sesorang yg saya sukai. karena bagi saya jika memberikan jilbab berarti saya sudah memasuki tingkat selanjutnya.

banyak teman si C yg kaget, tersentak dan termangu – red. bayangkan apabila seorang cewek di kasih jilbab berarti si cowok benar2 serius dgn perasaannya. banyak teman2 si C ingin tau siapa sih yg ngasih jilbab? kok berani bener?

cerita berlanjut….

sebagai cowo, pasti lah kami mencari tahu sesuatu ttg hal2 yg related dgn orang yg kita sukai. mis: hobbynya, sesuatu kesukaannya, kebiasaannya. usut punya usut karena jogja sempit, si C ternyata temannya si A yg jg mantan teman SMU si M. dengan mengetahui info tersebut M semakin mudah untuk mencari tau lebih banyak ttg si C. dengan tambah dekatnya mereka berdua, hub. mereka menjadi semakin serius. tp dalam tahap ini si M blm menyatakan rasa sukanya meskipun si C sudah tau dan merespon positif.

di bulan ini si C di wisuda (selamat y..) dan juga merayakan ultahnya yg ke-23. makanya si M mau memberikan sesuatu yg lain. saya usulin buat ngegambar si C tp si M blm bisa (malah nyuruh buat ngambarin…). dgn rencana yg matang dia pingin memberikan foto si C di waktu acara “sepeda santai” dengan di bingkai warna romantisme (hahaha). gak2, yg bener di bingkai dng pigura setelah di edit sana sini supaya lbh berkesan.

namun dalam obrolan, saya menangkap bahwa hub. mereka masih sangat rawan, beresiko dan banyak hal yg di pertaruhkan.

korek punya korek, ternyata hub. mereka ternyata sangat sulit.

  1. orangtua si C sangat Agamis dan punya prinsip gak ada yg namanya pacaran
  2. kedua orang tua mereka sudah saling kenal
  3. mereka sering terlibat dalam suatu acara bersama2 – gosip mulai tersebar luas
  4. keduanya masih blm siap ke jenjang yg lebih serius
  5. keduanya masih takut ttg. konsekuensi yg di terima jk hub. mereka berdua menjadi serius dan kemudian gagal di tangah jalan (konsekuensi sosial).

sampai saat ini keduannya masih malu2 kambing dalam menjalani kehidupan mereka. hanya dalam event2 tertentu mereka dapat bertemu. seperti dalam acara kepemudaan, rapat pemuda, arisan pemuda dll. si M masih ragu apabila harus datang kerumah maupun ke kampus si C dgn mksud pribadi atau personal.

jika saya melihat foto mereka berdua, kelihatan bahwa si C orangnya kalem dan agamis dan juga tipe kesukaan si M (si M sukanya ama yg nyempluk, agak berisi, terus putih)… peace bro!!! dalam foto mereka berdua tampak masih malu2 dgn hub mereka. smoga dalam bulan ini hub mereka akan baik dan slalu dalam rahmad ALLAH SWT.

end of the story….

dalam lingkungan kami (di jogja) banyak hal yg perlu dipikirkan sebelum kita melakukan sesuatu. untung – rugi buat diri sendiri, tanggung jwb kepada keluarga dan lingkungan jg diperhatikan. dalam hal “peknggo”, cerita cinta terjalin di dalam ruan lingkup yg sangat sempit yaitu di ruang lingkup bertetangga. saya menilai hub dalam ruang lingkup seperti ini sering menjadi impian banyak orang. banyak hal2 yg bisa menunjang hub yg lebih serius (jika sukses dan berlanjut dlm status pernikahan). seperti:

  1. kedua orang tua sudah saling mengenal sehingga tdk sulit jk ingin berdialog dan sharing bersama.
  2. hub. kedua belah pihak akan semakin erat (dieratkan dgn hub. besan)
  3. mudik lebih mudah (lha cm 1 kampung)
  4. jika terjadi sesuatu terhadap salah satu keluarga, akan lebih mudah informasi yg akan di dapat. dan akan semakin mudah buat di atasi karena jarak yg dekat sehingga kemungkinan besar kedua keluarga akan saling tolong menolong.
  5. jk punya anak, gampang buat bagi giliran (bila kangen ama cucu)
  6. akan terjadi gosip (positif) ttg mereka berdua.

itu yg akan terjadi jika telah menjadi sepasang pengantin. namun jika sesuatu terjadi di tengah jalan dan hubungan tersebut gagal maka banyak konsekuensi yg akan di terima kedua belah pihak. seperti:

  1. hubungan mereka akan semakin renggang dan akan mempengaruhi kehidupan bertetangga.
  2. akan sulit jika mereka berdua terlibat dalam satu acara di mana mereka sebelumnya sudah di kenal sebagai sepasang kekasih. hal ini akan terjadi seumur hidup mereka.
  3. hubungan kedua belah pihak (keluarga) akan menjadi sedikit renggang
  4. timbul gosip (negatif yg menerpa kedua belah puhak, baik secara individual maupun keluarga masing2). konsekuensi sosial yg harus di terima jika hidup dalam lingkup bertetangga.
  5. parahnya lg jika salah satu akan menikah (dgn orang lain) maka akan timbul hal yg sedikit mengganjal karena otomats sebagai tetangga akan di undang dan harus menghadiri acara tsb. akan tetapi di masa lampau telah terjadi sesuatu di dalam hubungan keluarga tersebut.

nah dari pemikiran itulah kedua belah masih takut dan ragu untuk melanjutkan hubungan ke tahap selanjutnya yg lebih kita kenal sebagai “pacaran”. dalam budaya jawa, kita di didik supaya menghargai orang lain, hidup dalam lingkup sosial yg menurut saya pandangan sosial terhadap diri pribadi dan keluaraga sangat di utamakan.

screenshot26

dilemma yg terjadi di antara mereka menurut saya memang harus di hadapi. semakin besar resiko semakin besar pula yg akan kita dapatkan. saya menyarankan supaya lebih berhati-hati dalam melangkah dan mengambil keputusan. banyak hal di pertaruhkan dalam hubungan mereka berdua.

dilemma sosial sering dan pasti terjadi di dalam ruang lingkup kehidupan bertetangga. entah itu sengaja atau tidak. kadang konsekuensi yg kita terima sangat berat (dikucilkan, di gosipin di belakang layar dll). banyak orang yg sangat takut apabila itu terjadi pada mereka. nama baik keluarga yg tercoreng dan pandangan orang terhadap kita akan sedikit banyak berubah.

begitulah kira2 pemikiran saya terhadap kondisi romance nya sahabat saya….

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.